Misteri Danau Pembunuh di Afrika, Membuat Ribuan Orang dan Hewan Mati

Danau Nyos, Tempat Ribuan Orang Mati dalam Semalam - Adventure Travel

Cast-eu.org – Pada 21 Agustus 1986, suara gemuruh tiba-tiba bergema di Danau Nyos, yang berlokasi di Kamerun bagian barat laut. Keesokan harinya, 1.746 orang dan lebih dari 3.500 ternak dalam jarak 25 kilometer dari danau ditemukan tewas.

Seorang petani bernama Ephriam Che, yang tinggal di dekat bukit tak jauh dari Danau Nyos mendengar suara gemuruh itu sekitar pukul 09.00 malam waktu setempat. Saat itu, tidak ada kecurigaan apapun di benak Che, ia lantas tidur sesaat setelah suara gemuruh terdengar.

Ketika dia terbangun keesokan harinya, Che menuju ke air terjun dan melihat pemandangan yang tak biasa.

Air di sana tiba-tiba kering. Lebih aneh lagi ketika seluruh tempat dilanda kesunyian, tanpa suara burung, serangga atau binatang lain. Karena ketakutan, Che bergegas menuruni bukit menuju desa di tepi danau.

Sesampainya di sana Che mendengar jeritan seseorang. Dia menemukan Halima Suley, seorang gembala sapi yang tinggal di desa, tengah berdiri dengan tatapan kosong dan putus asa, sembari meminta pertolongan Che. Di hadapan Halima tampak 31 mayat anggota keluarganya dan bangkai 400 hewan ternak.

“Tidak ada lalat di sana, karena lalat juga ikut mati,” kata Che kepada The Smithsonian.

Warga existed bernama Monica Lom Ngong juga punya cerita serupa. Ia mengatakan bahwa ketika dirinya membuka mata di pagi hari, ia mendapati keluarganya telah meninggal dunia, begitupun dengan tetangganya.

“Saya hanya duduk di antara orang mati di dalam rumah, ada juga yang di luar dan di belakang rumah. Hewan di mana-mana terkapar, seperti sapi, anjing dan semuanya. Saya bingung saat itu,” katanya kepada BBC.

Tidak ada tanda-tanda adanya kekerasan baik pada ratusan mayat yang ada di desa dekat danau maupun di desa sebelah. Satu-satunya petunjuk adalah bau telur busuk dan tanda aneh pada tubuh orang mati dan yang masih hidup.

“Ketika saya bangun saya mengalami luka bakar di lengan kiri,” kata Monica.

Tidak jelas apa yang terjadi di sana. Tapi orang-orang menganggapnya sebagai serangan kimia.

Ada juga yang menyangkutpautkannya dengan cerita takhayul. Mereka yang selamat kebanyakan yang mencari tempat lebih tinggi dari danau ketika gemuruh terdengar.

Saat itu, para ilmuwan langsung mendatangi ‘danau pembunuh Nyos untuk melakukan penyelidikan. Mereka menemukan mayat berserakan di mana-mana dan danau yang berubah dari biru menjadi merah.

Warga yang selamat banyak yang mengalami muntah, diare, dan halusinasi. Semuanya mengindikasikan gejala keracunan CARBON DIOXIDE. Sampel danau mengkonfirmasi penyebab insiden tersebut.

Danau Nyos terbentuk di kawah gunung berapi yang dapat menghasilkan CO2.

Biasanya di danau vulkanik, gas akan terlepas akibat air terganggu. Danau Nyos, bagaimanapun sangat tenang sehingga terjadi penumpukan CARBON DIOXIDE di sedimen selama beberapa dekade dan ini tidak diketahui oleh siapapun.

Belum jelas apa yang menyebabkan danau terganggu pada hari itu, apakah karena terjadi longsor atau karena gas tiba-tiba menguap ke permukaan, semuanya tidak jelas.

Tapi, ketika 1,2 kilometer kubik CARBON DIOXIDE dimuntahkan ke permukaan, dalam hanya waktu 20 detik itu bisa menyebabkan sesak napas bagi siapapun yang mencoba menghalangi laju penyebaran gas.

Gas beracun tersebut diketahui lebih padat dari udara di sekitarnya sehingga mereka yang sedang berdiri atau berada di tempat yang lebih tinggi punya potensi sedikit terpapar gas beracun. Sementara siapapun yang tidur di lantai atau di tempat yang lebih rendah, sudah dipastikan meninggal dunia.

Nyos bukan satu-satunya danau bermasalah. Danau Kivu yang berada di antara Republik Demokratik Kongo dan Rwanda, juga punya masalah sama dengan Nyos. Terlebih Danau Kivu memiliki location jauh lebih besar ketimbang Nyos dengan populasi yang lebih padat.

Peneliti mengatakan, peristiwa macam Nyos terjadi setiap seribu tahun atau lebih. Jadi, bukan tidak mungkin pembantaian gas beracun bisa terulang kembali di lain waktu.

Leave a Comment